info@poltekkaltara.ac.id +628125406278 Jl. P. Lumpuran, Kampung 1 Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara
Informasi Publik

Berita

Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.

Terungkap Lewat Studi, Makan Telur 2 Kali Sehari Bantu Turunkan Kolesterol 'Jahat'  Baca a
29 Jul 2025 IT Poltek

Selama bertahun-tahun, aturan terkait konsumsi telur harian masih belum ada yang konsisten. Beberapa studi menunjukkan sarapan dengan telur bisa berbahaya bagi kesehatan.

Namun, studi lainnya justru mendukung sarapan dengan telur sebagai sumber protein dan nutrisi lain yang sangat baik untuk tubuh.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition memperkuat bukti mengonsumsi telur sangat baik untuk tubuh. Penelitian ini mengamati pengaruh terpisah dari lemak jenuh dan kolesterol terhadap kadar lipoprotein densitas rendah atau low-density lipoprotein (LPL), atau kolesterol 'jahat' di dalam tubuh.

"Telur telah lama disalahgunakan oleh saran diet yang sudah ketinggalan zaman. Telur memang unik, tinggi kolesterol, ya. Tetapi, masih rendah lemak jenuh," terang ilmuwan olahraga Jonathan Buckley dari University of South Australia, dikutip dari ScienceAlert, Senin (28/7/2025).

"Namun, kadar kolesterolnya yang sering membuat orang mempertahankan perannya dalam pola makan sehat," sambungnya.

Dalam studi ini, peneliti memisahkan efek kolesterol dan lemak jenuh. Peneliti menemukan kolesterol tinggi dari telur, saat dikonsumsi sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh, sebenarnya tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat.

Sebaliknya, lemak jenuhlah yang menjadi pemicu utama peningkatan kolesterol.

Para peneliti merekrut 61 orang dewasa dengan kadar kolesterol LDL awal yang sama. Mereka diberikan tugas untuk menjalani tiga diet yang berbeda, masing-masing selama lima minggu.

Sebanyak 48 peserta menyelesaikan tiga diet tersebut. Pertama adalah diet tinggi kolesterol dan rendah lemak jenuh, yang mencakup dua telur per hari.

Kedua adalah diet rendah kolesterol dan tinggi lemak jenuh, tanpa telur. Terakhir, adalah diet tinggi kolesterol dan lemak jenuh, yang mencakup satu telur per hari.

Hasil penelitian menunjukkan diet tinggi lemak jenuh berkorelasi dengan peningkatan kadar kolesterol LDL.

Namun, diet tinggi kolesterol dan rendah lemak jenuh menghasilkan penurunan kadar kolesterol LDL. Hal ini menunjukkan bahwa telur tidak bertanggung jawab atas terjadinya kolesterol jahat.

"Bisa dibilang kami telah memberikan bukti nyata yang mendukung asupan telur," kata Buckley.

"Jadi, dalam hal sarapan matang, bukan telurnya yang perlu Anda khawatirkan. Tetapi, porsi bacon tambahan atau sosis yang lebih mungkin mempengaruhi kesehatan jantung Anda," pungkasnya.

(NF/detik.com)

Kegiatan Rapat Persiapan Raker Kerja Dan Famliy Gathering Politeknik Kaltara
28 Jul 2025 IT Poltek

Kegiatan Rapat Persiapan Raker Kerja Dan Famliy Gathering Politeknik Kaltara Pada Hari Senin 20/07/2025 

(NF)

Dari Beri sampai Alpukat, Ini 4 Buah Terbaik untuk Pengidap Diabetes
28 Jul 2025 IT Poltek

Siapa bilang orang dengan diabetes tidak boleh mengonsumsi buah? Faktanya, beberapa jenis buah tak hanya aman dikonsumsi, tapi juga bisa membantu memperbaiki kondisi kesehatan. Buah-buahan kaya serat, vitamin, dan antioksidan ini bisa menjadi bagian penting dari pola makan sehat untuk pengidap diabetes.

Saat memilih buah, penting untuk mempertimbangkan indeks glikemik (IG). Menurut karya ilmiah dari Politeknik Negeri Jember, indeks glikemik adalah ukuran yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan memengaruhi kenaikan kadar gula darah.

Buah-buahan dengan IG rendah cenderung lebih aman dan bermanfaat bagi pengidap diabetes karena tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Dikutip dari Times of India, berikut beberapa buah yang direkomendasikan untuk pengidap diabetes.

Berikut empat pilihan buah yang baik untuk kamu yang hidup dengan diabetes.
1. Buah Beri
Buah beri seperti raspberry, stroberi, dan blueberry memiliki indeks glikemik (IG) yang rendah. Selain itu, buah-buahan ini kaya akan serat dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Dalam satu cangkir buah beri terkandung sekitar 15-20 gram karbohidrat. Menurut studi tahun 2024, konsumsi buah beri secara rutin bahkan dapat membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 1.

"Buah beri sangat kaya akan polifenol, senyawa tumbuhan yang bisa meredakan peradangan yang berkaitan dengan perkembangan diabetes tipe 1," tutur Profesor Virtanen dari Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Finlandia, Helsinki, Finlandia.

2. Kiwi
Kiwi mengandung indeks glikemik rendah hingga sedang. Buah ini kaya akan serat dan nutrisi seperti vitamin C dan antioksidan yang bisa membantu menstabilkan kadar gula darah.

Kandungan serat di dalamnya dapat memperlambat penyerapan gula, sehingga menjadi pilihan yang ideal untuk mengelola diabetes. Namun, tetap batasi konsumsi satu atau dua kiwi per porsi. Hal ini untuk menghindari asupan karbohidrat yang berlebih.

3. Apel
Kaya serat dan mempunyai indeks glikemik rendah, apel bisa dipilih oleh pengidap diabetes. Kandungan pektin dan serat larut dalam apel dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kesehatan usus.

Apel juga mengandung vitamin C dan antioksidan. Untuk mengonsumsi serat yang lebih banyak, konsumsi apel beserta kulitnya. Asupan ini bisa memperlambat pencernaan dan penyerapan gula.

Kendati demikian pertimbangkan untuk hanya mengonsumsi satu apel berukuran sedang. Dalam apel ini terdapat 25 g karbohidrat.

4. Alpukat
Alpukat mengandung rendah karbohidrat dan lemak sehat yang tinggi. Lemak tak jenuh tunggal yang dimiliki alpukat bisa menyehatkan jantung, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengurangi lonjakan kadar gula darah.

Sebuah studi menunjukkan bahwa ngemil alpukat di malam hari bisa meningkatkan metabolisme trigliserida yang lebih sehat keesokan paginya.

"Meski lemak baik dan serat dalam alpukat sudah menjadikannya camilan yang memuaskan, penelitian ini membuat kita berpikir tentang bagaimana camilan sebelum tidur, sesuatu yang dikonsumsi 84% orang secara teratur bisa memengaruhi cara tubuh menangani makanan nanti," kata Britt Burton-Freeman, penulis studi dan profesor, serta ketua Departemen Ilmu Pangan dan Nutrisi di Institut Teknologi Illinois.

(NF/detik.com)

3 Makanan yang Dapat Meningkatkan Fungsi Ginjal, Mudah Didapatkan
25 Jul 2025 IT Poltek

Ginjal memainkan peran penting dalam menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah, menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit, dan mengatur tekanan darah. Menjaga kesehatan ginjal sangatlah krusial, dan pola makan memiliki pengaruh besar terhadap fungsinya.

Dr Eric Berg, seorang chiropractor dan penulis di bidang nutrisi, membagikan tiga jenis makanan yang dinilai dapat mendukung fungsi ginjal. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Times of India

1. Timun
Menjaga tubuh tetap terhidrasi sangat penting untuk mendukung fungsi ginjal. Dr Berg merekomendasikan mentimun sebagai pilihan makanan karena kandungan airnya yang mencapai 95 persen. Kandungan ini membantu membuang limbah seperti kreatinin dan asam urat dari ginjal.

Di antara sayuran tinggi air lainnya, mentimun termasuk yang paling rendah kalori, sehingga aman dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa mengganggu program penurunan berat badan. Mentimun dapat dikonsumsi langsung, dicampur dalam salad, atau dijadikan air infus untuk membantu menjaga hidrasi tubuh.

2. Jeruk Nipis
Kandungan vitamin C dan sitrat yang tinggi di dalam lemon berperan penting dalam membantu mencegah pembentukan batu ginjal. Sitrat dapat mengikat kalsium dalam urine, sehingga mengurangi risiko terbentuknya kristal penyebab batu ginjal. Menambahkan perasan lemon ke dalam air minum dapat menjadi cara sederhana untuk mendukung kesehatan ginjal sekaligus menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Penelitian menunjukkan, mengonsumsi setengah cangkir konsentrat sari lemon yang diencerkan dalam air setiap hari, atau perasan dari dua buah lemon, dapat meningkatkan kadar sitrat dalam urine dan berpotensi menurunkan risiko pembentukan batu ginjal.

Menambahkan sari lemon segar ke dalam air atau teh merupakan cara sederhana untuk memperoleh manfaat ini. Konsumsi secara rutin juga dapat membantu menurunkan kadar asam urat, yang jika berlebihan dapat membebani fungsi ginjal.

Meski demikian, individu dengan riwayat asam lambung atau sensitivitas lambung disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin mengonsumsi lemon.

3. Parsley atau Peterseli
Peterseli mengandung antioksidan yang kuat, yang berperan penting dalam mengurangi stres oksidatif, faktor kunci dalam perkembangan penyakit ginjal. Beberapa flavonoid dalam peterseli, seperti apigenin, luteolin, dan quercetin, dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang kuat.

Sebuah studi pada tahun 2024 menunjukkan konsumsi peterseli dapat menurunkan stres oksidatif, memperbaiki biomarker metabolik, meningkatkan fungsi ginjal, serta menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri dan jamur.

Tanaman ini juga dinilai memiliki potensi dalam mencegah dan mengelola gangguan yang berkaitan dengan ginjal, infeksi, dan kondisi kronis lain yang dipicu oleh kerusakan oksidatif dan peradangan.

Penelitian lain pada tahun 2017 terhadap tikus dengan batu ginjal menemukan tikus yang diberi peterseli mengalami penurunan ekskresi kalsium dan protein dalam urine. Selain itu, terjadi peningkatan pH urine dan frekuensi buang air kecil, yang merupakan indikator positif dalam pengelolaan batu ginjal.

(NF/detik.com)



Kegiatan Monev Kuliah Pakar Prodi D-III Keperawatan Politeknik Kaltara
25 Jul 2025 IT Poltek

Kegiatan Monev Kuliah Pakar Prodi D-III Keperawatan Politeknik Kaltara Pada Hari jumat 25/07/2025 (NF)

Kegiatan Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara
25 Jul 2025 IT Poltek

Kegiatan Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara Pada Hari Jumat 25/07/2025