info@poltekkaltara.ac.id +628125406278 Jl. P. Lumpuran, Kampung 1 Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara
Informasi Publik

Berita

Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.

Indonesia Bakal Beli Vaksin COVID-19 Pfizer? Ini Kata Kemenkes
18 Nov 2020 IT Poltek

 

Vaksin Corona Pfizer diklaim efektif 90 persen mencegah symptomatic COVID-19. Artinya, seseorang yang disuntik vaksin ini tetap bisa terinfeksi, namun tidak mengalami gejala.

Ini tetap jadi kabar baik untuk meredakan pandemi COVID-19. Lantas apakah Indonesia tertarik membeli vaksin Corona Pfizer?

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Budi Hidayat mengatakan, hingga saat ini belum ada keputusan apakah Indonesia akan memasukkan vaksin Corona Pfizer ke dalam program vaksinasi COVID-19 di Indonesia.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, ia dan pihaknya masih menunggu perkembangan terbaru dari penelitian uji klinis fase 3 vaksin Corona Pfizer.

"Didiskusikan dulu, belum bisa jawab soal penggunaannya, karena masih dipelajari," ucap Budi saat dihubungi detikcom, Rabu (11/11/2020).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku masuknya vaksin Corona Pfizer ke Indonesia masih menjadi pertimbangan. Sebab, masih banyaknya pembahasan soal pengadaan vaksin.

"Ini disiapkan untuk menjadi bagian berikutnya (dari pengadaan vaksin di dalam negeri), karena masih banyak yang dibahas terkait pengadaan vaksin," ungkap Airlangga, Selasa (10/11/2020) dikutip dari CNNIndonesia.

"Indonesia tentunya dari berbagai vaksin itu dipertimbangkan, tapi kami belum memasukkan Pfizer sebagai salah satu (pada saat ini)," katanya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku kabar baik yang datang dari vaksin Corona Pfizer ini memberikan harapan baru bagi dunia.

"Kabar vaksin (Pfizer) memberi sentimen positif di seluruh dunia. Lalu hasil pemilu AS juga diharapkan bisa memberi sentimen positif," kata Sri Mulyani dalam acara CNBC Indonesia, Selasa (10/11/2020).detikhealth


Sama-sama 90 Persen Efektif, Ini Kelebihan Vaksin COVID-19 Moderna Vs Pfizer
17 Nov 2020 IT Poltek

Sama-sama diklaim punya efektivitas di atas 90 persen, vaksin COVID-19 buatan Moderna dan Pfizer memang punya sejumlah kemiripan. Namun Moderna mengklaim vaksin buatannya punya keunggulan.

Selain punya efektivitas yang mencapai 94,5 persen, vaksin COVID-19 Moderna juga mirip dengan vaksin Pfizer dalam hal teknologi yang digunakan. Keduanya menggunakan platform mRNA, yakni menggunakan kode genetik virus yang bisa dibuat manusia.

Cara kerja vaksin ini adalah dengan melatih sistem imun tubuh untuk memerangi infeksi virus. Teknologi yang menggunakan platform mRNA ini terbilang paling mutakhir, belum pernah digunakan dalam vaksin yang saat ini beredar.

Apa kelebihan vaksin Moderna dibanding Pfizer?

Dr Tal Zacks, chief medical officer Moderna, mengatakan vaksin ini bisa bertahan selama 6 bulan pada penyimpanan dengan suhu minus 20 derajat Celcius. Bahkan masih bisa bertahan selama 30 hari pada suhu pendingin biasa.

"Kami memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada untuk vaksin lain di pasaran," kata Dr Zacks, dikutip dari CNN, Selasa (17/11/2020).

Vaksin lain yang bisa disimpan dengan suhu serupa adalah vaksin cacar air.

Sebagai pembanding, vaksin COVID-19 Pfizer disebut membutuhkan penyimpanan pada suhu minus 75 derajat Celcius. Tidak ada vaksin lain di Amerika Serikat yang membutuhkan suhu serendah itu untuk penyimpanan, sehingga masalah distribusi akan menjadi tantangan serius.detikhealth

Deklarasi Anti Nyontek di adakan di Politeknik Kaltara
17 Nov 2020 IT Poltek

Bertempat dikampus Politeknik Kaltara diadakan kegiatan Deklarasi Anti Nyontek yang diadakan sebelum pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) yang diikuti oleh semua mahasiswa dari semua program studi

Daftar 2 Obat yang Diizinkan BPOM RI dan 14 Herbal yang Diteliti untuk COVID-19
17 Nov 2020 IT Poltek

BPOM memberikan izin penggunaan darurat 2 obat untuk pasien COVID-19, yakni Favipiravir dan Remdevisir. Sebanyak 14 produk herbal juga diberi izin serupa.

"Dua obat ini sudah mendapatkan hasil uji klinik yang telah dipublikasikan secara internasional. Sudah mendapatkan data yang cukup yang dipercaya dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian pasien COVID-19," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Kusumastuti Lukito dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (17/11).

Favipiravir merupakan obat dalam bentuk tablet dan diberikan untuk pasien bergejala ringan hingga sedang (usia 18 tahun lebih). Remdevisir berbentuk serbuk injeksi dan diberikan untuk pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

BPOM juga telah memberikan persetujuan EUA untuk 7 industri farmasi terkait dua obat ini. Berikut rinciannya:

  1. Favipiravir dengan nama dagang Avigan diproduksi oleh Fujifilm Toyama Chemical Jepang/PT Beta Pharmacon.
  2. Favipiravir oleh Kimia Farma.
  3. Remdesivir dengan nama dagang Cofivor diproduksi oleh Hetero India/Amarox Pharma.
  4. Remdesivir dengan nama dagang Desrem oleh Mylan India/Indo Farma
  5. Remdesivir dengana nama dagang Jubi-R oleh Jubilant India/Dexa Medica
  6. Remdesivir dengan nama dagang Remdac oleh Cadila Healthcare India/PT Kimia Farma
  7. Remdesivir dengan nama dagang Cipremi oleh Cipta India/PT Soho Industri Farmasi.

Selain obat, BPOM juga telah melakukan pendampingan terhadap 14 komponen herbal sebagai imunomodulator atau pendamping pengobatan pasien COVID-19. Ke-14 produk ini juga tengah menjalani uji di sejumlah RS.



Berikut daftar lengkapnya:

  1. Cordycep dan Deteflu
  2. Ekstrak daun jambu biji
  3. Health tone oil
  4. Avimac
  5. Virgin coconut oil
  6. Ekstrak etanol ketopeng China
  7. Golerend, Penglar
  8. Minyak atsiri daun ecalyptus
  9. Awer-awer
  10. Innamed COV
  11. Jamu purwarupa
  12. Vipalboemin
  13. Bejo
  14. Health tone.
4 Provinsi Ini Laporkan Tidak Ada Kasus Baru Corona Per 9 November
09 Nov 2020 IT Poltek

Berdasarkan situs resmi Satgas Penanganan COVID-19 pada Senin (9/11/2020), kasus baru Corona di Indonesia bertambah sebanyak 2.853 kasus, sehingga totalnya sudah mencapai 440.569 orang.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus Corona baru tertinggi sebanyak 716 orang. Sementara posisi kedua ditempati Jawa Tengah.

Berikut 4 provinsi di Indonesia yang tidak ada kasus baru Corona per 9 November:

  1. Bangka Belitung
  2. Kalimantan Barat
  3. Sulawesi Tengah
  4. Papua

Adapun 5 Provinsi dengan kasus Corona terbanyak, Senin (9/11/2020).

DKI Jakarta: 716 kasus

    • JawaTengah: 619 kasus
    • Jawa Barat: 330 kasus
    • Jawa Timur: 234 kasus
    • Sumatera Barat: 126 kasus
Risiko Kanker di Balik Sedapnya Ikan Asin
06 Nov 2020

Risiko Kanker di Balik Sedapnya Ikan Asin

Ikan asin lekat dengan image pangan yang murah, enak, dan mudah diolah. Makan ikan asin sebetulnya tak jadi masalah jika tidak terlalu banyak atau sering.Namun...

Risiko Kanker di Balik Sedapnya Ikan Asin
06 Nov 2020 IT Poltek

Ikan asin lekat dengan image pangan yang murah, enak, dan mudah diolah. Makan ikan asin sebetulnya tak jadi masalah jika tidak terlalu banyak atau sering.

Namun berbeda halnya jika ikan asin dikonsumsi berlebihan. Apalagi jika ikan asin mengandung banyak zat pengawet, misal formalin dan boraks.

"Konsumsi ikan asin berlebihan berisiko mengakibatkan kanker saluran cerna, yang dimulai dari bibir dan rongga mulut hingga lambung. Semua yang dilewatin ikan asin berisiko kena kanker," kata dokter ahli radiasi onkologi dr Denny Handoyo Kirana, SpOnk.Rad.


Risiko ini sesuai alur pengolahan ikan asin dalam saluran cerna. Beberapa risiko kanker yang mungkin muncul adalah rongga mulut, tenggorokan dekat nasofaring, kerongkongan atau esofagus, hingga lambung. Risiko paling besar adalah nasofaring karena letaknya ngumpet.

Nasofaring adalah areal di belakang hidung yang lebih tinggi dari rongga mulut. Menurut dr Denny, areal ini berbahaya karena sulit dijaga kebersihannya. Areal nasofaring tak terjangkau usaha kebersihan setiap hari, layaknya sikat gigi untuk menjaga kebersihan rongga mulut

Letak yang ngumpet juga menyulitkan kontrol di bagian nasofaring. Padahal nasofaring dilewati sirkulasi udara dan pengolahan makanan di dasarnya setiap hari. Tak heran bila kanker nasofaring ditemukan bila ukurannya sudah besar.

Pertumbuhan benjolan ke arah telinga menimbulkan sensasi penuh, bergesekan dengan hidung mengakibatkan mimisan, atau sulit menelan seperti amandel. Kanker nasofaring biasanya diatasi dengan kemoterapi dan radiasi.

Salah satu penikmat ikan asin Ekariyana tak menyangka asupan tersebut berkontribusi mengakibatkan kanker nasofaring. Lelaki asal Blora, Jawa Tengah ini mengatakan tak perlu lauk lain jika sudah ada ikan asin dan sambal terasi.

"Dulu saya tidak tahu kalau ikan asin bisa mengakibatkan kanker. Sekarang saya menghindari ikan asin, paling konsumsi 1 kali setahun ngobatin kangen. Dikit aja cuma buat inget begini lho rasanya," kata Eka yang kini berusia 46 tahun.

Eka menjalani pengobatan selama kurang lebih 6 bulan, yang berakhir pada Agustus 2014. Sejak didiagnosa pada Februari 2014, Eka menjalani kurang lebih 30 radiasi, 3 kali kemoterapi dengan periode 3 bulan, dan 6 kali terapi kemoterapi periode mingguan. Eka kini memasuki tahun kelima pemulihan kanker.Ikan asin tentunya bukan menjadi faktor risiko satu-satunya kanker nasofaring. Gaya hidup, geografis, dan ekonomi ikut berperan mengakibatkan kanker di masyarakat. Pertumbuhan kanker bisa dicegah dengan tidak merokok, olahraga, makan sehat, dan rutin cek kesehatan.

Bagi penikmat ikan asin, dr Dante mengatakan masih bisa menimati makanan favoritnya. Namun sebaiknya jangan terlalu sering serta tahu proses pembuatan dan kualitas bahannya. Ikan asin yang hendak dikonsumsi harus terbuat dari bahan segar serta tanpa pengawet, untuk menekan risiko terjadinya kanker (detik/m)