Pendidikan Vokasi Berkualitas
Seluruh program studi berikut sudah diselaraskan dengan struktur program studi yang tampil pada website utama. Setiap kartu mengarah ke halaman prodi yang sekarang memiliki layout lebih lengkap dan modern.
D-III Keperawatan
Diploma III Keperawatan (DIII) adalah program studi yang menghasilkan perawat profesional dalam memberikan asuhan keperawatan dengan komposisi pembelajaran 60% praktik dan 40% teori.
- 3 Tahun (6 Semester)
- Terakreditasi
- Perawat Pelaksana, Puskesmas, Rumah Sakit
D-III Farmasi
Program vokasi Diploma 3 Farmasi yang menghasilkan Ahli Madya Farmasi/Tenaga Teknis Kefarmasian dengan fokus keterampilan praktik.
- 3 Tahun (6 Semester)
- Terakreditasi
- Pelayanan, Produksi, Distribusi Sediaan Farmasi
D-IV Promosi Kesehatan
Program Studi DIV Promkes pertama di Kalimantan Utara, dengan pembelajaran praktik laboratorium, institusi kesehatan, pendidikan, dan masyarakat.
- 4 Tahun (8 Semester)
- Terakreditasi
- Implementator Promkes, Pemberdayaan Masyarakat, Advokator
D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program sarjana terapan K3 yang unggul, berdaya saing global, dan inovatif dalam penerapan teknologi hijau berbasis keselamatan kerja berkelanjutan.
- 4 Tahun (8 Semester)
- Program Baru
- HSE Officer, Safety Inspector, Konsultan K3
D-IV Sistem Informasi Kota Cerdas
Program vokasi Sarjana Terapan yang menyiapkan lulusan profesional di bidang sistem informasi, keamanan siber, data, IoT, dan GIS untuk kota cerdas berkelanjutan.
- 4 Tahun (8 Semester)
- Program Baru
- System Analyst, Application Developer, Cybersecurity Analyst, Data Architect, GIS Analyst
Artikel / Informasi












Darurat Narkoba:
Ancaman Nyata yang Mengintai Generasi Muda Kita
Opini Kesehatan
| Edisi Khusus Pencegahan Narkoba
Bayangkan
sebuah kelas berisi empat puluh siswa. Mereka duduk rapi, seragam bersih, buku
terbuka di meja. Di antara mereka ada yang bercita-cita menjadi dokter, ada
yang ingin jadi guru, ada yang bermimpi merintis usaha sendiri. Tapi bayangkan
juga ini: secara statistik, rata-rata delapan di antara mereka pernah
bersentuhan dengan narkoba — bukan karena mereka bodoh, melainkan karena
ancaman itu memang sudah ada di sana, diam-diam, dekat, dan nyata.
Fakta ini bukan rekaan. Dari setiap seratus pelajar
Indonesia, rata-rata delapan orang tercatat pernah memakai narkoba. Dan angka
ini bukan monopoli kota-kota besar. Ia hadir di mana-mana — di gang sempit, di
balik kantin sekolah, di sudut-sudut yang tidak pernah kita duga, termasuk di
kota dan lingkungan kita sendiri.
Bukan Masalah Orang Lain
Kesalahan terbesar yang sering kita buat adalah
menganggap narkoba sebagai urusan orang lain, di tempat lain, di waktu yang
entah kapan. Padahal kenyataannya, persoalan ini sudah ada di depan pintu rumah
kita — bahkan mungkin sudah melewati ambang pintunya tanpa kita sadari.
Di tingkat global, setiap tahun puluhan ribu nyawa
melayang bukan karena bencana alam, bukan karena perang, melainkan karena
narkoba. Ratusan juta penduduk dunia hidup dalam jerat ketergantungan — dari heroin,
kokain, hingga berbagai jenis amfetamin dan obat penenang yang beredar bebas di
pasar gelap. Di balik setiap angka itu ada anak seseorang, ada saudara kandung,
ada teman yang pernah kita kenal, yang kini tidak lagi utuh — atau bahkan tidak
lagi ada.
Indonesia bukan sekadar penonton dalam tragedi global
ini. Kita adalah bagian dari peta peredaran narkoba internasional yang sangat
terstruktur. Kokain masuk dari Amerika Latin. Heroin dan morfin menyusup
melalui jaringan Asia sebelum menargetkan pasar lebih jauh, dengan wilayah kita
sebagai salah satu jalur transit. Sabu-sabu dan ekstasi berputar melalui kita
sebelum menjangkau berbagai penjuru. Kita bukan hanya pasar — kita juga
dijadikan jembatan. Dan anak-anak muda kita yang menjadi taruhannya.
"Kita bukan hanya pasar narkoba internasional. Kita
dijadikan jembatan — dan anak-anak muda kita yang menjadi taruhannya."
Gunung Es yang Terus Membesar
Yang membuat persoalan ini semakin mencemaskan adalah
sifatnya yang tersembunyi. Para ahli kesehatan masyarakat sering menyebutnya
sebagai fenomena gunung es — apa yang terlihat di permukaan, angka-angka yang
tercatat dalam laporan resmi, hanyalah sepersekian kecil dari realitas yang
sesungguhnya tenggelam jauh di bawah.
Kasus yang berhasil ditangani hanyalah sebagian kecil
dari yang benar-benar terjadi di masyarakat. Banyak pengguna yang tidak pernah
tertangkap. Banyak peredaran yang tidak pernah terdeteksi. Banyak remaja yang
tenggelam dalam lingkaran narkoba tanpa pernah masuk hitungan statistik mana
pun. Dan selama bagian bawah gunung es itu tidak pernah disentuh, tidak ada
upaya pemberantasan yang benar-benar tuntas.
Kenaikan jumlah kasus dari tahun ke tahun bukan
sekadar hasil kerja aparat yang semakin aktif — ia adalah cerminan dari skala
masalah yang semakin besar. Dan di balik lonjakan angka itu, selalu ada
wajah-wajah muda yang seharusnya sedang belajar, bermain, dan bermimpi.
Ketika Daerah Kita Berbicara
Ada anggapan yang perlu kita patahkan: bahwa narkoba
hanyalah masalah kota-kota besar. Kenyataannya, narkoba sudah lama merambah ke
kota-kota kecil, ke kabupaten, bahkan ke kampung-kampung yang selama ini kita
anggap jauh dari jangkauannya.
Di berbagai daerah, tren yang sama terus berulang:
jumlah kasus meningkat dari tahun ke tahun, dan kelompok yang paling cepat
bertambah adalah usia muda — usia sekolah dan kuliah. Peningkatan itu bukan
kebetulan. Ia adalah hasil dari jaringan peredaran yang semakin terorganisir,
yang dengan sadar menyasar generasi paling muda dan paling rentan sebagai
target utama mereka.
Kalimantan Utara, termasuk Kota Tarakan, tidak luput
dari ancaman ini. Data yang pernah tercatat memperlihatkan tren kenaikan yang
konsisten, dengan pengguna muda sebagai kelompok yang proporsinya terus
meningkat. Ini bukan sekadar angka di atas kertas — ini adalah anak-anak
tetangga kita, teman sekolah anak kita, adik-adik yang masih punya seluruh
hidup di depan mereka.
Mengapa Remaja Paling Mudah
Terjebak?
Pertanyaan ini selalu penting untuk dijawab dengan
jujur: mengapa justru remaja yang paling mudah terjebak? Jawabannya tidak ada
hubungannya dengan kebodohan atau karakter yang lemah. Jawabannya ada pada
psikologi perkembangan — pada sifat alami dari fase kehidupan yang sedang
mereka jalani.
Masa remaja adalah masa di mana rasa ingin tahu
meluap-luap. Otak remaja secara biologis memang sedang dalam mode eksplorasi
yang intens — terdorong untuk mencoba hal baru, menguji batas, dan mencari pengalaman
yang belum pernah ada sebelumnya. Dorongan itu sebenarnya sehat dan diperlukan;
tanpanya, tidak akan ada inovasi, tidak ada keberanian untuk berubah. Namun
tanpa bimbingan yang tepat, dorongan yang sama bisa dengan mudah diarahkan ke
tempat yang salah — termasuk ke narkoba yang menawarkan 'pengalaman baru'
dengan iming-iming palsu.
Di saat yang sama, kebutuhan untuk diterima oleh
kelompok teman sebaya begitu kuat di usia ini. Takut ditolak, takut dianggap
penakut, takut tidak dianggap bagian dari kelompok — semua ketakutan itu bisa
mendorong seorang remaja melakukan sesuatu yang sebetulnya bertentangan dengan
nilai-nilainya sendiri. Dalam banyak kasus nyata, narkoba pertama kali bukan
datang dari pengedar gelap yang misterius — ia datang dari teman sekolah, dari
kakak kelas, dari orang-orang yang dikenal baik, yang mengajak dengan dalih
kebersamaan atau sekadar 'coba dulu, tidak apa-apa.'
Masa remaja juga adalah masa pencarian jati diri yang
paling kritis. Banyak remaja yang belum menemukan tempat berpijak yang kokoh —
belum tahu persis siapa mereka, apa yang mereka yakini, dan ke mana mereka mau
pergi. Dalam kekosongan identitas itu, lingkungan menjadi penentu segalanya.
Dan ketika lingkungan itu menawarkan narkoba sebagai 'tiket masuk' ke sebuah kelompok,
risikonya menjadi berlipat ganda.
"Narkoba pertama kali bukan datang dari pengedar gelap yang
misterius — ia datang dari teman sekolah, dari orang yang dikenal baik, yang
mengajak dengan dalih kebersamaan."
Dampak yang Merobek Segalanya
Narkoba tidak hanya merusak tubuh. Ia merobek hampir
setiap aspek kehidupan penggunanya secara bersamaan — dari dalam ke luar, dari
kesehatan fisik hingga hubungan sosial dan masa depan.
Secara fisik, narkoba menyerang otak lebih dulu.
Gangguan fungsi otak berarti menurunnya daya ingat, perubahan suasana perasaan
yang ekstrem, dan hilangnya kemampuan menilai risiko secara normal. Kerusakan
berlanjut ke organ-organ vital lainnya: hati, ginjal, paru-paru. Gangguan
jantung dan pembuluh darah. Gangguan sistem pernapasan. Bagi yang menggunakan
narkoba suntik dan berbagi jarum, ancaman hepatitis dan HIV/AIDS mengintai
setiap saat.
Namun kerusakan fisik hanya babak pertama. Babak
berikutnya — yang sering tidak terlihat dari luar — justru lebih menghancurkan.
Produktivitas belajar merosot, kemampuan berkonsentrasi hilang, hubungan dengan
keluarga renggang dan penuh konflik. Persahabatan yang sehat perlahan
ditinggalkan karena pengguna semakin menarik diri ke lingkungan sesama
pengguna. Dan dalam banyak kasus, narkoba menjadi pintu masuk menuju
kriminalitas lain — karena mempertahankan ketergantungan itu butuh uang, dan
tidak semua cara untuk mendapatkannya adalah cara yang halal.
Yang paling menyedihkan adalah hilangnya masa depan.
Remaja yang semestinya sedang membangun fondasi hidupnya — belajar,
mengembangkan bakat, merajut cita-cita — justru menghabiskan energi terbaiknya
untuk bertahan dalam lingkaran ketergantungan yang tidak pernah memberikan apa
pun selain kehancuran yang semakin dalam.
Hukum Penting, Tapi Tidak Cukup
Selama puluhan tahun, respons utama kita terhadap
narkoba adalah penegakan hukum. Dan hukum memang perlu — tidak ada yang bisa
membantah bahwa pemberantasan jaringan peredaran gelap adalah langkah yang
mutlak dilakukan. Berbagai perangkat hukum telah lahir: regulasi tentang
narkotika, tentang psikotropika, tentang zat adiktif — dengan ancaman hukuman
yang semakin berat bagi para pelaku, termasuk ancaman hukuman mati bagi
sindikat tingkat tinggi.
Namun angka tidak pernah berbohong. Meski ribuan
aparat bekerja keras, meski banyak bandar ditangkap dan dihukum, persoalan ini
tidak mereda. Mengapa? Karena hukum bekerja setelah kejahatan terjadi. Hukum
bisa menangkap pengedar, tetapi tidak bisa masuk ke dalam pikiran seorang
remaja yang sedang mempertimbangkan untuk 'sekadar sekali coba saja.' Hukum
bisa memenjarakan bandar, tetapi tidak bisa mengisi kekosongan yang dirasakan
seorang anak muda yang kesepian, tidak punya tujuan hidup, dan tidak merasa
diterima di manapun.
Pada dasarnya, penyalahgunaan narkoba adalah masalah
perilaku manusia — bukan semata-mata persoalan hukum atau keamanan. Artinya,
selama perilaku manusia tidak dibangun di atas fondasi yang kokoh melalui
edukasi, pembentukan nilai, dan penguatan keluarga, ancaman narkoba tidak akan
pernah bisa diselesaikan hanya dengan jeruji besi dan ancaman hukuman.
Tanggung Jawab Kita Bersama
Lalu apa yang sesungguhnya bisa kita lakukan?
Jawabannya tidak sederhana, tapi sangat jelas: ini adalah tanggung jawab kita
bersama. Bukan hanya pemerintah, bukan hanya polisi, bukan hanya guru di
sekolah. Melainkan kita semua — sebagai orang tua, sebagai anggota komunitas,
sebagai bagian dari masyarakat yang ingin melihat generasi mudanya selamat.
Keluarga adalah benteng pertama dan yang paling
menentukan. Komunikasi yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak —
bukan sekadar mengatur dan melarang, melainkan benar-benar mendengar, memahami,
dan hadir — adalah perlindungan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Remaja
yang merasa didengar di rumah tidak akan mudah mencari pelarian di tempat lain.
Remaja yang merasa dicintai tanpa syarat tidak akan mudah dirayu oleh tawaran
palsu yang datang dari jalanan.
Sekolah adalah garis pertahanan berikutnya. Pendidikan
tentang bahaya narkoba harus disampaikan bukan sebagai ceramah yang menakutkan,
melainkan sebagai percakapan yang memberdayakan. Remaja perlu dibekali tidak
hanya dengan informasi tentang apa itu narkoba, tapi juga dengan keterampilan
hidup yang nyata: bagaimana menolak tekanan teman sebaya, bagaimana mengelola
stres dan emosi, bagaimana membuat keputusan yang sehat bahkan ketika
lingkungan sekitarnya memilih yang sebaliknya.
Dan masyarakat harus menciptakan lingkungan yang
memberi ruang bagi remaja untuk tumbuh, berkreasi, dan menemukan makna hidup
mereka tanpa harus mengambil risiko yang menghancurkan. Olahraga, seni,
kegiatan sosial, keagamaan, komunitas positif — semua ini adalah alternatif
nyata yang jauh lebih bermakna dari pelarian sesaat yang ditawarkan narkoba.
Darurat Ini Nyata
Ada satu hal yang perlu kita akui dengan jujur dan
tanpa basa-basi: kita sudah terlambat bersikap sepenuhnya waspada. Narkoba
bukan lagi ancaman yang mengintai dari kejauhan — ia sudah ada di sekolah, di
lingkungan rumah, mungkin bahkan sudah mengetuk pintu kita.
Setiap hari yang berlalu tanpa tindakan nyata adalah
satu hari yang kita berikan kepada narkoba untuk semakin dalam menjerat
generasi muda kita. Generasi yang seharusnya menjadi penerus bangsa. Generasi
yang seharusnya membawa negeri ini ke tempat yang lebih baik.
Darurat ini nyata. Dan respons kita — sebagai orang
tua, sebagai pendidik, sebagai warga yang peduli — harus sama nyatanya. Bukan
sekadar keprihatinan yang diungkapkan di meja makan. Bukan sekadar postingan
simpati di media sosial yang menghilang dalam hitungan jam. Melainkan tindakan
yang konkret, konsisten, dan dimulai dari diri kita sendiri, dari keluarga
kita, dari lingkungan terdekat kita.
Anak-anak muda kita berhak tumbuh dalam dunia yang melindungi,
bukan dunia yang membiarkan mereka menjadi korban. Dan itu dimulai dari pilihan
kita hari ini.
Artikel ini disarikan dari buku "Membangun Generasi
Bebas Narkoba melalui Edukasi dan Promosi Kesehatan" | Pustaka Aksara,
2026
Rapat Koordinasi Kegiatan Caping Day Prodi D3 Keperawatan Politeknik Kaltara
Ujian Seminar Hasil Prodi D3 Keperawatan Politeknik Kaltara
Ujian Seminar Hasil Prodi D3 Farmasi Politeknik Kaltara
Kegiatan OSCE Prodi D3 Farmasi Politeknik Kaltara
Permasalahan
narkoba tidak hanya menjadi urusan hukum, tetapi juga persoalan kesehatan
masyarakat, pendidikan, keluarga, dan masa depan generasi muda. Banyak remaja
mengenal narkoba bukan karena memahami bahayanya, melainkan karena rasa ingin
tahu, pengaruh teman sebaya, tekanan lingkungan, atau keinginan mencari
pengakuan dalam pergaulan. Pada titik inilah edukasi dan promosi kesehatan
memiliki peran penting. Pencegahan tidak cukup dilakukan melalui larangan atau
ancaman hukuman. Remaja perlu memperoleh informasi yang benar, mudah dipahami,
dekat dengan kehidupannya, dan disampaikan secara berulang melalui media yang
menarik.
Dalam
promosi kesehatan, media menjadi jembatan antara pesan kesehatan dan perubahan
perilaku. Pesan yang baik tidak akan memberi dampak apabila tidak sampai kepada
sasaran dengan cara yang tepat. Sebaliknya, media sederhana dapat menjadi kuat
bila dirancang sesuai kebutuhan masyarakat. Dua media yang sering digunakan
dalam edukasi kesehatan adalah leaflet dan poster. Keduanya terlihat kecil,
murah, dan mudah dibuat, tetapi memiliki peran besar dalam memperkuat pemahaman
remaja tentang bahaya narkoba.
Leaflet
merupakan media cetak berukuran kecil yang berisi informasi singkat, padat,
jelas, dan mudah dibawa. Dalam kegiatan penyuluhan, leaflet dapat dibagikan
langsung kepada siswa, orang tua, maupun masyarakat. Keunggulan leaflet
terletak pada sifatnya yang praktis. Seseorang dapat membacanya saat kegiatan
berlangsung, menyimpannya, lalu membaca kembali di rumah. Dengan demikian,
informasi tentang narkoba tidak berhenti ketika penyuluhan selesai, tetapi
tetap dapat diingat dan dipelajari ulang.
Dalam
pencegahan narkoba, leaflet dapat memuat pesan tentang pengertian narkoba,
jenis narkoba, dampaknya terhadap otak dan tubuh, risiko terhadap pendidikan,
bahaya pergaulan negatif, serta cara menolak ajakan menggunakan narkoba.
Informasi tersebut harus ditulis dengan bahasa sederhana, tidak menakut-nakuti
secara berlebihan, dan langsung mengarah pada inti pesan. Remaja lebih mudah
menerima pesan yang dekat dengan pengalaman mereka, seperti memilih teman
positif, mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, berani mengatakan tidak, dan
mencari bantuan saat menghadapi tekanan.
Selain
leaflet, poster memiliki kekuatan visual. Poster biasanya dipasang di tempat
yang mudah dilihat, seperti ruang kelas, lorong sekolah, puskesmas, balai desa,
papan pengumuman, atau tempat berkumpulnya remaja. Melalui gambar, warna,
simbol, dan kalimat pendek, poster mampu menarik perhatian dalam waktu singkat.
Pesan seperti “Katakan Tidak pada Narkoba”, “Masa Depanmu Lebih Berharga”, atau
“Hidup Sehat Tanpa Narkoba” dapat menjadi pengingat visual yang terus dilihat
setiap hari.
Poster
yang baik tidak harus penuh tulisan. Justru, poster lebih kuat apabila
menggunakan kalimat pendek, gambar yang jelas, dan ajakan tindakan yang tegas.
Dalam konteks pencegahan narkoba, poster dapat menggambarkan akibat buruk
narkoba terhadap prestasi belajar, kesehatan mental, hubungan keluarga, dan
masa depan remaja. Poster juga dapat menampilkan pilihan positif, seperti olahraga,
belajar, berkarya, berorganisasi, dan bergaul dengan teman yang mendukung
perilaku sehat.
Kombinasi
leaflet dan poster menjadi strategi yang lebih lengkap. Leaflet memberikan
penjelasan yang lebih rinci, sedangkan poster memperkuat ingatan melalui pesan
visual. Ketika pesan diterima melalui bacaan, gambar, warna, dan pengulangan di
lingkungan sekolah, peluang pesan tersebut untuk diingat menjadi lebih besar.
Edukasi kesehatan pun tidak lagi terasa sebagai ceramah satu arah, tetapi hadir
dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Agar
leaflet dan poster benar-benar berdampak, pembuatannya tidak boleh asal-asalan.
Sasaran harus ditentukan dengan jelas. Leaflet untuk siswa SMP tentu berbeda
dengan leaflet untuk orang tua atau masyarakat umum. Bahasa, gambar, contoh
kasus, dan ajakan tindakannya harus disesuaikan dengan usia, tingkat pemahaman,
dan kondisi sosial sasaran. Begitu pula poster harus ditempatkan di lokasi
strategis, mudah dilihat, tidak tertutup benda lain, dan diperbarui secara berkala
agar tidak membosankan.
Media
edukasi juga perlu didukung komunikasi langsung. Leaflet dan poster akan lebih
bermakna apabila disertai penyuluhan, diskusi, bimbingan guru, peran orang tua,
serta dukungan lingkungan sekolah. Media hanyalah alat bantu, sedangkan
perubahan perilaku membutuhkan proses berkelanjutan. Remaja perlu diajak
memahami bahwa narkoba bukan tanda keberanian, bukan jalan keluar dari masalah,
dan bukan cara agar diterima dalam pergaulan. Sebaliknya, narkoba dapat merusak
kesehatan, menurunkan kemampuan belajar, mengganggu emosi, merusak hubungan
keluarga, dan menghancurkan masa depan.
Pada
akhirnya, leaflet dan poster bukan sekadar kertas berisi tulisan dan gambar.
Keduanya adalah media kecil yang membawa pesan besar: menyelamatkan generasi
muda dari penyalahgunaan narkoba. Di tengah derasnya informasi dan kuatnya
pengaruh pergaulan, remaja membutuhkan pesan yang jelas, mudah diingat, dan
terus hadir di lingkungannya. Melalui leaflet dan poster yang dirancang dengan
baik, edukasi bahaya narkoba dapat menjadi lebih dekat, menarik, dan
menggerakkan. Dari media kecil inilah kesadaran besar dapat tumbuh, yaitu
kesadaran untuk memilih hidup sehat, produktif, dan bebas narkoba.
*Penulis adalah Dosen Pada Prodi Promosi Kesehatan, Politeknik Kaltara
Rapat Monev Pembuatan ASKEP Digital Prodi D3 Keperawatan Bertempat Di Ruang Rapat Lantai 2 Politeknik Kaltara 10 Juni 2026
Seminar Askep Praktek Klinik Keperawatan (PKK) Prodi D3 Keperawatan Politeknik Kaltara 09 Juni 2026
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Kaltara 04 Juni 2026
Tema Suara Digital : Edukasi Literasi Kesehatan dan Pelatihan The Power Of Voice Bagi Komunikator Masa Depan Prodi D4 Promosi Kesehatan Politeknik Kaltara 02 Juni 2026
Layanan Akademik & Informasi
Temukan sistem administrasi, kemahasiswaan, penjaminan mutu, layanan publik, dan karier alumni dalam satu tampilan ringkas.
Alur Pendaftaran PMB Online
Ikuti langkah-langkah mudah di bawah ini untuk bergabung menjadi civitas akademika Politeknik Kaltara.
Daftar Akun
Registrasi akun calon mahasiswa baru di portal PMB Online.
Dokumen & Persyaratan Wajib
- Email / No. Handphone Aktif
- Kartu Identitas Anak (KIA) / KTP Orang Tua
- Foto Selfie Wajah Formal
Lingkungan Belajar Modern
Politeknik Kaltara didukung oleh berbagai fasilitas penunjang akademik berstandar nasional untuk memastikan pengalaman kuliah praktik terbaik.

Laboratorium
Laboratorium terpadu untuk Program Studi Keperawatan, Farmasi, dan Promosi Kesehatan. Dilengkapi sarana praktik klinis keperawatan, formulasi dan pengujian sediaan obat, serta penunjang kegiatan promosi kesehatan masyarakat.

Perpustakaan Digital
Ruang baca modern dengan akses bahan ajar, jurnal, e-book, dan referensi ilmiah untuk mendukung proses pembelajaran mandiri dan kolaboratif.

Smart Classroom
Ruang belajar interaktif yang mendukung presentasi multimedia, pembelajaran hybrid, dan demonstrasi praktik berbasis teknologi.
Pengumuman & Agenda
Pengumuman
-
Surat Edaran Libur Hari Raya Idul Adha -
Politeknik Kaltara bedasarkan kalender akademik akan Dilaksanakan semester antara dengan jadwal : Pendaftaran 28 Januari-04 Februari 2026, Perkuliahan Perdana Dilaksanakan Pada 02 - 14 Februari 2026 -
Politeknik Kaltara bedasarkan kalender akdemik akan melaksankan semester antara dengan jadwal : * Pembukaan : 14 Juli - 31 Agustus 2025 *Pendaftaran : 14 - 30 Juli 2025 *Perkuliahan : 1 - 23 Agustus 2025 -
Pantau bersama jadwal puasa Ramadhan dengan mengunduh Kalender Hijriah Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Agama Indonesia. Bulan suci Ramadhan kini tinggal menghitung hari. Pembahasan mengenai kapan pelaksanaan puasa Ramadhan hingga libur anak sekolah pun menjadi topik yang hangat dibicarakan. Pada Rabu (12/2/2025), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menetapkan hasil hisab untuk Ramadhan, Syawal dan Zulhijah 1446 H. Melalui siaran langsung di kanal YouTube Muhammadiyah Channel, Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti menyatakan bahwa 1 Ramadhan 1446 Hijriah bertepatan dengan 1 Maret 2025. "Berdasarkan hasil hisab, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025," ucapnya dalam Konferensi Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal dan Zulhijah 1446 H, Rabu (12/2/2025).
Agenda Terdekat
- 13Feb
-
Sehubungan Dengan Selesainya Kegiatan PKK dan PKL Prodi D3 Keperawatan
Maka Dengan ini Akan Dilaksanakan Rapat Monitoring Dan Evaluasi (MONEV)
- 29Jan
-
Tema : Implementasi Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit Berbasis Teknologi Hijau
- 15Des
-
Pelaksanaan Audit Mutu Internal ( AMI ) LPMI Politeknik Kaltara akan dilaksanakan dari tanggal 15 sampai dengan 19 Desember 2025 bertempat di Ruang Rapat Politeknik Kaltara
- 04Nov
-
Pelaksanaan UTS Mulai Tanggal 4/11/2025 - 7/11/2025 di Politeknik Kaltara
Pertanyaan Umum (FAQ)
Temukan jawaban cepat untuk pertanyaan seputar pendaftaran, program studi, dan kehidupan kampus di Politeknik Kaltara.
Video Profil
Kata Alumni
Alhamdullilah, tidak perlu menunggu lama , begitu saya selesai /wisuda di Program Studi DIII Farmasi Politeknik Kaltara saya langsung bekerja di BSB Farma, sesuai dengan bidang ilmu saya
Menjadi Alumni DIII Program Studi Keperawatan Politeknik Kaltara sangat membantu saya dalam bertugas di daerah terpencil, iya, menjadi perawat dalam program Kemenkes RI di Kecamatan Seko. Kecamatan Seko merupakan kecamatan di Wilayah Kab. Luwu Utara Prop. Sulsel yang hanya bisa ditempuh lewat moda transportasi udara. saya BAHAGIA bisa mengabdi langsung di masyarakat terpencil
Alhamdullilah, begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan di Akper Kaltara Tarakan. Dosen dan fasilitasnya yang berkualitas serta pelayanannya yang ramah membuat saya sangat terbantu, bangga menjadi salah satu bagian dari Alumni Akper Kaltara
Mitra Kerjasama







.webp)